Ada Mie Instant Ada Juga Ijazah Instant

Beberapa minggu terakhir ini, di milis evaluasi-ps-dikti yang aku ikuti sibuk membahas tentang kasus Ijazah Instant. Melalui EPSBED masalah ini bisa cegah, jika memang dijalankan dengan benar. Cuma masalahnya bagaimana dengan yang sudah memperoleh ijazah instant dan institusi yang menerbitkan ijazah instant? Adakah tindakan yang telah dilakukan???

Berikut beberapa cuplikan pembahasan tentang Ijazah Instant.

sumber : http://jawapos. co.id/metropolis /index.php? act=detail& nid=29877

INTERAKTIF IJAZAH INSTAN

Perlu Dibuka Pengaduan

Sudah bermacam-macam tanggapan tentang ijazah instan yang dilontarkan mereka-mereka yang peduli terhadap dunia pendidikan di kota ini. Namun, respons dari pihak yang berwenang, khususnya koordinasi perguruan tinggi swasta (kopertis) atau Dirjen Pendidikan Tinggi belum tampak. Langkah polisi juga masih berputar-putar. Mungkin mereka mengalami keterbatasan informasi.

Oleh karena itu, mari kita bantu mereka dengan membuka kotak pengaduan. Kalau ada orang di lingkungan kita yang nyata-nyata menggunakan ijazah instan, laporkan saja, agar dosanya tidak semakin menumpuk.

sumber: http://jawapos. co.id/metropolis /index.php? act=detail& nid=29877

ARYO KURNIAWAN, gurumusiku@yahoo. co.id

———-

Akibat Mahalnya Biaya Pendidikan

YANG saya ketahui, ada dua prinsip yang digunakan masyarakat terkait dengan pendidikan tinggi. Pertama, gelar dulu kerja belakangan (GDKB). Kedua, kerja dulu gelar belakangan (KDGB). Prinsip GDKB biasa dipilih oleh keluarga ekonomi mapan. Dengan demikian, kesannya, waktu hidup dia hanya dihabiskan untuk berburu gelar. Sedangkan penganut KDGB kebanyakan

dari keluarga ekonomi pas-pasan. Dengan kesibukannya sebagai pekerja berpenghasilan tetap, mereka rela mengikuti kuliah ekstensi atau kelas jauh Sabtu dan Minggu asalkan mendapatkan gelar, tidak peduli apakah semiinstan atau instan murni.

Konsekuensi logis dari dana pendidikan 20 persen APBN semestinya bisa menurunkan biaya pendidikan, bila perlu digratiskan. Selama naiknya anggaran pendidikan hanya berdampak menggendutkan perut kelompok tertentu di luar pengguna pendidikan, penganut aliran KDGB terus bertambah. Teori ekonomi pun berlaku. Maraknya permintaan ijazah instan diimbangi dengan tumbuh suburnya penyedia. Apa bedanya, masuk perguruan tinggi lewat pintu puluhan bahkan ratusan juta rupiah dengan sedikit biaya bisa mendapatkan gelar yang sama? Tentu banyak bedanya, tapi sama korupsinya. Yang satu korupsi kesempatan belajar karena menyisihkan yang lain, dan yang satunya korupsi status karena tidak/belum layak menyandang gelar.

Semua tahu, yang merusak sendi-sendi kehidupan negara kita adalah koruptor. Tanpa disigi (maaf), saya sudah bisa menyimpulkan, bahwa persentase koruptor yang berijazah asli lebih banyak daripada yang berijazah instan. Tanpa bermaksud memaafkan pemakai dan penyedia ijazah instan, mahalnya biaya pendidikan tetap menjadi penyebabnya.

S. H. KUSUMA, Jombang

—–

Ungkap Juga Penjiplakan Karya Ilmiah

Jangan ragu-ragu Jawa Pos. Ungkap saja terus. Bahkan, di perguruan tinggi lain, hal itu terjadi dengan modus dan intensitas yang berbeda. Juga tentang penjiplakan karya ilmiah oleh para dosen yang mau naik pangkat atau mengurus jabatan akademik.

TRI BUDHI SASTRIO, Surabaya

—–

Ketahuan, Pecat Saja

MENANGGAPI komentar bapak Moh. Hanafi (Jawa Pos, 13 Oktober 2008) yang menyarankan agar pak wali kota menurunkan jabatan para pegawainya yang ketahuan memakai ijazah instan, misal kalau camat dijadikan sekcam, menurut saya saran tersebut kurang tepat. Lebih baik para pegawai yang menggunakan ijazah instan diturunkan jabatannya serendah mungkin. Bila perlu dipecat saja. Misalnya jabatan sebelumnya adalah kepala dinas, lebih baik diturunkan menjadi staf biasa atau di mutasi di daerah terpencil dengan jabatan yang serendah-rendahnya.

Pengadaan ijazah instan bukan hanya di Surabaya, melainkan di beberapa daerah di Jawa Timur sudah ada sejak dulu. Mohon ditindak dengan sanbat tegas.

Aam

Ternyata di negara “Indonesia” tercinta ini, tidak makananan, minuman dan telpon saja yang instant Ijazah juga ada yang instant. Apakah ini suatu dampak dari keinginan masyarakat yang maunya serba instant?. Kalau mie bolah saja instant, nasi goreng juga boleh instant. Kopi atau susu juga boleh instant. Tapi kalau ijazah instant bisa dibenarkan ??? Memang sudah edan !

4 Komentar

Filed under Pengamatan

4 responses to “Ada Mie Instant Ada Juga Ijazah Instant

  1. Mau dong ijazah instant, enak kali ya…. Tapi klo dipikir buat apa ijazah kalau otaknya nol…

  2. Tukeran link yuk bang…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s