LASKAR PELANGI SEBUAH CERMIN BUAT BANGSA

Rasa penasaranku terhadap kisah Laskar Pelangi dimulai ketika menonton acara KickAndy yang disiarkan salah satu station televisi swasta. Waktu itu kickandy menghadirkan si penulis “Laskar Pelangi” Andrea Hirata dan ibu Mus. Acara ini sangat menggelitik keingintahuanku. Namun rasa keingintahuan lebih dalam tentang kisah “Laskar Pelangi” itu terkubur oleh kesibukanku sampai akhirnya kisah itu diangkat kedalam sebuah Film dengan judul yang sama.

Bagus kisah perjuangan para Laskar Pelangi , Ibu Mus dan pak Harfan membuat ku harus menonton filem ini sampai 2 kali di salah satu cineplex di kotaku, dan ini juga membuat keinginanku untuk memiliki novelnya semakin kuat. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Laskar Pelangi ya lebih tepatnya kisah Laskar Pelangi ini sebuah cermin buat bangsa kita. Dimana pendidikan di bangsa tercinta ini tengah porak poranda. Dikatakan sebagai sebuah cermin, ya diharapkan supaya bangsa kita bisa “bercermin”. Cermin ini ditujukan untuk pemerintah, para guru, orang tua dan murid.

Kisah ini merupakan cermin buat pemimpin negeri yang sibuk menghitung anggaran pendidikan, namun realisasinya kapan?. Sebuah cerminan buat para guru yang sedang sibuk dengan “PR” mengejar sertifkasinya. Seharusnya guru seperti ibu Mus dan pak Harfan lah yang layak disertifikasi, guru seperti merekalah yang layak mendapat gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Buat orang tua dan murid/ siswa bahkan mahasiwa yang sibuk mengejar beasiswa. Seharusnya murid-murid seperti Lintanglah yang harus mendapat beasiswa.

Kisah Laskar Pelangi memang diangkat dari kisah di akhir tahun 70-an, namun kondisi pendidikan di negara kita saat ini tidak jauh beda dengan kondisi di tahun 70-an. Karena masih banyak gedung sekolah yang tidak layak di sebut gedung. Sekolah yang mau ambruk, sekolah yang atapnya bocor, dan tidak layak untuk dijadikan tempat belajar yang nyaman bagi anak-anak didik. Masih banyak anak-anak yang berbakat, yang memiliki ke-geniusan seperti Lintang yang belum mendapatkan kesempatan untuk sekolah. Walaupun saat ini pemerintah sudah menjanjikan kenaikan gaji guru, dan meningkatan pendapatan guru melalui program sertifikasi, namun perlu diawasi pelaksanaanya, agar yang mendapatkan sertifikasi adalah benar-benar orang yang tepat.

Pesan yang sangat mendalam dari apa yang diucapkan pak harfan kepada murid-muridnya :

“Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya dan bukan menerima sebanyak-banyaknya!”

Tinggalkan komentar

Filed under Pengamatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s