Kisah sebuah SMK dibalik pendidikan Gratis

Pada beberapa waktu lalu saya mengadakan kunjungan ke sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di salah satu sudut Propinsi Jambi. Miris sekali melihat kondisi sekolah tersebut, meskipun gedung sekolah telah dibangun secara permanen, namun masih ada beberapa kelas yang harus menyelenggarakan proses belajar mengajar secara lesehan, karena tidak tersedia meja dan bangku. Kemudian masih ada siswa belajar di ruangan yang tidak layak disebut sebagai kelas. Jika seperti ini bagaimana kita bisa meningkatkan mutu pendidikan? bagaimana siswa bisa menyerap pelajaran dengan baik jika suasana belajar saja sudah tidak nyaman!

Mungkin hal ini terjadi karena keterbatasan ruang kelas!, jika demikian kenapa penerimaan tidak disesuaikan dengan daya tampung? Namun dari informasi yang saya dapatkan : sebenarnya sekolah tidak mau menerima semua siswa yang mendaftar karena keterbatasan kelas, namun dari pihak terkait melarang dilakukan pembatasan, artinya semua siswa harus bisa diterima!, ini kan naif sekali. Ibaratnya sebuah bus yang sudah sarat dengan penumpang, namun tetap dipaksakan untuk menerima penumpang lagi. Seharusnya pihak terkait tidak hanya bisa membuat kebijakan tanpa memberikan solusi bagi sekolah. Akibatnya, sekolah harus berpikir keras bagaimana agar kelas bisa menampung seluruh siswa yang ada.  Al hasil, seluruh siswa kelas 2 di magangkan. Namun dengan cara inipun belum sepenuhnya bisa menyelesaikan masalah, tetap saja ruang kelas ada belum bisa menampung seluruh siswa kelas 1 dan 3.

Belum lagi melihat beberapa jendela kelas yang harus ditempel dengan papan, karena kaca yang pecah. Maaf , kalau saya melihatnya lebih mirip sebuah gudang dari pada sebuah kelas. Sekali lagi, bagaimana sekolah bisa memberikan lulusan-lulusan yang bermutu jika suasana dan lingkungan belajar sudah tidak mendukung.

Yang lebih miris lagi, salah satu jurusan yang terdapat pada SMK tersebut tidak tersedia guru dengan latar belakang ilmu yang sesuai bidang. Nah loh? bagaimana ini? Kalau sumberdayanya belum ada kenapa harus dibentuk jurusannya? Yang lebih naif lagi keadaan ini telah berjalan bertahun-tahun, saat ini siswa pada jurusan tersebut telah duduk dikelas 3.  Padahal siswa lulusan SMK seharusnya sudah mampu untuk bekerja atau bahkan membuka lapangan kerja. Menurut informasi yang saya dapat, pada penerimaan CPNS yang lalu, sekolah telah mencoba mengusulkan untuk tenaga guru pada jurusan yang bersangkutan, namun tidak dikabulkan.

Ternyata pendidikan Gratis belum sepenuhnya memberikan solusi. Para orangtua boleh senang karena sekarang sekolah Gratis, namun apa yang bisa dilakukan anak-anak kita nanti? apa yang telah mereka peroleh dari sekolah? Lihatlah kondisi diatas! Masih ada tugas lain pemerintah selain pendidikan gratis, yaitu “mutu pendidikan”. SDM guru yang kompeten didukung dengan fasilitas yang memadai diharapkan dapat mendorong terwujudnya pendidikan bermutu, memang masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan, namun paling tidak 2 faktor diatas merupakan salah satu contoh temuan penulis dilapangan. Mungkin temuan ini belum seberapa, mungkin ada sekolah dengan kondisi yang lebih parah dari ini. Semoga tulisan ini dapat dijadikan sebagai cermin, agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

1 Komentar

Filed under Pengamatan

One response to “Kisah sebuah SMK dibalik pendidikan Gratis

  1. Blog yang luar biasa…teruslah berkarya !!🙂
    http://mobil88.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s